Kamis, 25 Oktober 2012


KEGIATAN                              : BEDAH BUKU, HE QI : UTARA.

Tema : “Putaran Cinta Kasih”
Narasumber : Hok Cun Sx & Lim Cun Bie Sx
Moderator : Posan Sx
MC : Sjukur Sx
Lokasi : Jing Si Books & Café, Pluit.
Waktu : Kamis, 25 Oktober 2012 Pkl: 19:00 – 21:00
Jumlah peserta :33  orang

Setiap orang memiliki cinta kasih dan dapat bersumbangsih, kehidupan ini bagaikan roda yang terus berputar tidak selamanya hidup kita berada diatas (senang) dan tidak selamanya kita berada dibawah (menderita).

Lim Cun Bie shixiong merasa sangat bersyukur dan berterima kasih kepada relawan Tzu Chi, yang benar-benar dengan tulus telah membantu. ”Sebelum berjodoh dengan Tzu Chi anak saya sakit dan hasilnya dinyatakan adalah tumor teratoma (tumor bawaan sejak lahir) dan harus segera dioperasi, waktu itu saya sama sekali tidak punya uang, saya hanya seorang penjual siomay keliling benar-benar tidak punya uang. Tiba-tiba saya teringat dengan Pak Acun (Hok Cun shixiong) saya dengar Pak Acun sekarang bekerja di Yayasan Buddha Tzu Chi yang biasanya membantu orang-orang, pertemuan dengan Pak Acun pun terjadi tanpa diduga-duga lalu saya pun menceritakan kondisi saya. Akhirnya pada Desember 2008 saya mengajukan bantuan ke Yayasan Buddha Tzu Chi. Saat di survei saya sangat gembira saya merasakan ada secercah harapan  lalu 3 hari kemudian anak saya pun di bawa ke RSCM untuk menjalani pengobatan, selama masa pengobatan saya selalu didampingi oleh Pan Acun ”ungkap Lim Cun Bie shixiong menceritakan bagaimana awal mula jodoh beliau dengan Tzu Chi.

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri, kita hendaknya dapat saling membantu. Terinspirasi dari cerita celengan bambu dari Hok Cun shixiong, Lim Cun Bie shixiong  yang bahwasannya telah dibantu oleh Yayasan Buddha Tzu Chi pun tergerak hatinya untuk dapat membantu kembali orang lain yang membutuhkan. Bermodalkan sepeda motor tua miliknya saat berkeliling menjajakan dagangannya beliau terus menyebarkan semangat celengan bambu kepada lebih banyak orang, meskipun selalu saja ada orang-orang yang berburuk sangka terhadap beliau namun, beliau tetap bersemangat. Lim Cun Bie shixiong berharap semoga putaran cinta kasih ini dapat terus berputar bagaikan roda sepeda motornya yang terus bergulir. bertekad selama Tzu Chi masih berdiri dan selama dirinya masih diberi kesempatan di dunia ini, beliau berkomitmen akan selalu membantu melalui celengan bambu. Semoga putaran cinta kasih ini bisa menjadi putaran cinta kasih universal yang penuh makna dan menjadi putaran yang tidak berhenti.
 
Hoklay shixiong :
ini adalah salah satu bentuk panggilan jiwa dari Lim Cun Bie shixiong untuk dapat kembali bersumbangsih dan membantu orang lain, semoga ini juga bisa menjadi semangat bagi relawan yang lainnya di Tzu Chi.


Posan shixiong :
Makna dari putaran cinta kasih itu sungguh luar biasa sekali dimana seseorang yang dibantu sekarang bisa membantu orang lain lagi, Master berkata membantu bukan hanya materi saja, bukan hanya secara fisik saja tetapi  yang terpenting adalah membantu secara batiniah, supaya bisa kembali membantu orang lain lagi dan ini sudah terbukti. Master juga mengatakan bahwa berdana bukan hanya hak orang kaya saja tetapi adalah hak setiap orang yang memiliki cinta kasih dan niat yang tulus seperti Lim Cun Bie shixiong.

Kesehatan adalah harta yang paling berharga. Merasa bahagia karena sudah dibantu maka disaat sudah merasa mampu sudah seharusnya kita kembali membantu orang-orang yang juga membutuhkan bantuan. Mari pergunakan tubuh yang sehat ini untuk dapat terus bersumbangsih.

Dipenghujung acara Lim Cun Bie shixiong juga mengungkapkan harapannya ingin menjadi relawan di Tzu Chi, ingin menjadi orang yang lebih baik. Beliau juga mengutarakan keinginan untuk bervegetarian “vegetarian kan sehat” ujar Lim Cun Bie shixiong. Asalkan ada tekad pasti akan ada kekuatan yang paling penting adalah memiliki pendirian yang kuat dan emosi yang lemah lembut.

GAN EN.

Kamis, 18 Oktober 2012

KEGIATAN            : BEDAH BUKU, HE QI: UTARA.

Tema                 : Kera yang Sombong - Buku Membeli Kebijaksanaan (bab.2).
Pembicara          : Sharing Peserta.
MC                     : Sjukur Zhuang Shixiong. 
Lokasi                : Jing Si Book and Café, Pluit.
Waktu               : Kamis 18 Oktober 2012, Jam 19.00 –21.00 WIB.
Jumlah peserta : 21 orang.

Narator / pembaca cerita : Po San Shixiong.
Pengisi suara kera dan Bihksu : Stephen Ang Shixiong.
Pengisi suara pemburu : Sjukur Zhuang Shixiong.


Isi cerita :
Narator : Disebuah gunung tinggal sekelompok kera yang hidup sangat harmonis bagai sebuah keluarga besar. Diantara mereka ada seekor kera yang sangat cerdas, ia selalu ingin menjadi pemimpin. Kera-kera lain menjauhinya, tetapi ia tetap saja sangat sombong.

“Aku lebih cerdas dari kalian, mengapa aku malah dijauhi? Tak apa, tanpa kalian pun kehidupanku tetap baik-baik saja”  kera yang sombong berkata dalam hatinya.

Narator : Suatu hari serombongan pemburu datang ke gunung tersebut (Kawanan kera melarikan diri). Tinggallah si kera sombong itu sendiri, ia menggoda rombongan pemburu dengan melompat kesana kemari memamerkan kehebatannya. Sebenarnya para pemburu tidak berniat membunuhnya, tetapi mereka menjadi marah akibat tingkah laku menjengkelkan kera itu (Kera mengejek para pemburu).

“Ayo, kita serempak memanahnya” kata Pemburu (Pemburu beramai-ramai memanah kera tersebut).

Narator : Walaupun cerdas dan lincah, ia tetap tidak dapat melarikan diri dari serangan rombongan pemburu itu dan akhirnya mati terpanah.

Bihksu : Kedamaian dalam hidup tercipta dari hubungan yang harmonis dengan orang lain. Apabila menganggap diri sendiri berbeda dengan orang lain, merasa diri lebih hebat, lebih pintar serta menganggap orang lain bodoh, maka kehidupan seperti inilah yang paling kesepian. Seandainya kera tersebut dapat hidup harmonis dengan kelompoknya, maka ketika ada bahaya ia dapat bersama-sama mencari jalan untuk menyelamatkan diri dengan kawanan kera lainnya. Sayangnya karena sifatnya yang sombong dan sok pintar,  ia akhirnya mati terbunuh. Sungguh sangat disayangkan. Kita harus memperlakukan sesama dengan lemah lembut. Jangan sekali-kali menyombongkan kehebatan diri sendiri. Dalam bermasyarakat, kita harus pandai-pandai membawa diri. Jika tidak, kita akan dikucilkan dan menderita kesepian. Kehidupan seperti itu sangatlah menyedihkan, juga merupakan kehidupan yang gagal. Dan semua itu disebabkan kesalahan diri sendiri sehingga dibenci masyarakat.

“Manusia adalah makhluk sosial yang tidak mungkin hidup sendiri, seseorang yang diterima dan disukai oleh orang lain barulah dianggap berhasil dalam menjalani kehidupan. Oleh karena itu dalam kehidupan sehari-hari, kita harus menjaga “Niat Pikiran” dengan baik”.

Sharing peserta :

Yogi Shixiong => Kera yang sombong itu, karena ia merasa yang paling pintar.

Po San Shixiong => Kera yang sombong itu merasa bisa hidup sendiri tanpa bantuan yang lain, ia merasa sombongnya seolah tanpa yang lain ia bisa hidup sendiri. Karena ia merasa sombong dan merasa pintar jadi ia berani menantang pemburu, padahal pemburunya itu tidak bermaksud untuk memburu ia, mungkin pemburu itu hendak berburu binatang yang lain, tapi karena merasa di goda dan di tantang maka pemburunya itu kesal jadi membunuhnya. Ada kata perenungan Master Cheng Yen “Semua orang punya masalah, tetapi yang paling penting jangan mencari masalah”.


Senny Shijie => Mood orang kita tidak pernah tahu, dalam lingkungan pergaulan kita mungkin ada teman yang bercandanya keterlaluan dan kelihatannya seperti nge-Sok (sombong). Mungkin saat bertemu dengan orang, lalu ia berlagak dan lagaknya itu membuat orang marah dan melampiaskan kemarahannya pada dia, mungkin saja maksudnya dia tidak begitu tapi itu membuat ia jadi seperti kena karma.

Stephen Shixiong => Saya ini suka foto dan ketika masuk kedalam kegiatan Tzu Chi, kita ada tim foto yang mendokumentasikan kegiatan. Kalau saya merasa diri sendiri hebat lalu dalam kegiatan besar dengan 4.000 – 6.000 orang, kalau saya yang foto sendiri itu kan tidak mungkin dan saya butuh juga bantuan orang lain. Mungkin diantara para anggota ini ada yang tidak mempunyai keahlian foto seperti saya, kalau saya tidak memberikan ilmu yang saya dapat, misalnya: ada yang mau foto tapi tidak tahu caranya dan saya biarkan saja lalu hasil fotonya tidak bagus, itu juga berarti tidak dapat bekerja sama dengan baik. Jadi saya juga mengSharingkan cara bagaimana membuat foto yang baik, sehingga pada hari H semua bisa berjalan lancar dan menghasilkan gambar yang baik. Seperti kera yang sombong ini, ia tidak mau untuk membagi kepintarannya dan hanya disimpan untuk dirinya sendiri saja, yang akhirnya kepintarannya itu tidak bisa dibawa ketika ia mati.

Sin Jiu Shixiong => Dalam kehidupan sehari-hari kita, memang ada yang seperti ini. Dimana ada orang yang egonya terlalu tinggi, jadi seakan-akan dia yang benar dan orang lain disekitarnya salah dan didalam keluarga sendiripun tidak terlepas dari itu.

Hendry Shixiong => Kesombongan itu memang dari si kera, tapi mungkin kera itu tidak ingin menjadi kera yang sombong. Ia hanya ingin menunjukkan jati dirinya seperti ini loh tapi hanya caranya itu salah, sehingga komunitasnya tidak menghargai kelebihan dia. Ketika ia berlagak didepan para pemburu, justru itu yang membuat ia celaka.

靜思語  Jìng sī yǔ  (kata perenungan) Master Cheng Yen : 
“Kita harus dapat mengecilkan ego kita sehalus debu, namun tidak berarti harus merendahkan diri. Justru dengan sikap penuh kerendahan hati ini, kita berusaha mengoptimalkan potensi yang ada pada diri kita”.


Johan Shixiong => Hidup didalam suatu komunitas selalu ada Pro dan Kontra , yang artinya selalu ada nilai-nilai yang saling berlawanan dan itu tidak akan pernah selesai. Point-nya adalah How to manage bagaimana menyiasati antara pandangan penilaian saya dan pandangan penilaian umum / kebanyakan orang. Oleh karena itu kita harus tahu bahwa makhluk hidup itu beragam dan manusia pun beragam, jadi bagaimana kita mengatasinya saja. Dengan pikiran yang positif akan memberi kondisi karma baik cepat berbuah, sebaliknya pikiran negative akan menjadi lahan subur bagi karma buruk untuk cepat berbuah. Kenapa di kata perenungan dalam cerita ini dikatakan “Oleh karena itu dalam kehidupan sehari-hari, kita harus menjaga “Niat Pikiran” dengan baik”, karena pikiran yang baik adalah usaha kita memberi kondisi yang baik pada benih yang sudah kita bawa dan benih itu akan tumbuh subur sesuai dengan lahan yang kita berikan. Rendah hati adalah salah satu pelatihan diri kita, karena karma buruk mempunyai 3 akar, yaitu: Lobha / Ketamakan (貪  Tān), Dosa / Kebencian (瞋 Chēn), Mohha / Kebodohan (癡  Chī). Tetapi ada lagi yang lebih kecil / halus, yaitu: Kesombongan (慢 Màn) dan Keraguan (疑  Yí). Dengan melatih untuk memahami dan menyadari, barulah kita bisa rendah hati sehingga tidak menimbulkan kontradiksi dengan orang lain How to manage your life.

Hok Lay Shixiong => Kita sering kali menginginkan pengakuan. Didalam melakukan kegiatan atau dalam keseharian kita, kita selalu mengharapkan pengakuan dari sekeliling kita, seperti : pengakuan sebagai orang yang baik, orang yang pintar, yang suci, yang ganteng / cantik dan sebagainya. Ketika pengakuan seperti itu tidak didapat maka kita menjadi kecewa terhadap sekeliling kita dan kalau kita mencari pengakuan diri seperti ini sebenarnya banyak membawa masalah bagi kita. Seperti si monyet ini ketika tidak diakui maka ia merasa kecewa dan dengan kesombongannya ia merasa lebih pintar “Buat apa kumpul dengan kamu lagi mending saya pergi sendiri saja”. Sama juga seperti “Saya berbuat baik di Tzu Chi tapi tidak ada yang mengakui perbuatan baik saya, yah saya pergi saja berbuat baik ditempat lain. Buat apa saya berbuat baik di Tzu Chi tapi semua orang tidak menganggap saya”.

Tidak Menganggap Saya ini lebih dari kesombongan, yang dasarnya adalah ingin suatu pengakuan, maka kita harus belajar Berkesadaran dari keinginan-keinginan yang mengotori batin. Kalau kita menyadari ada keinginan seperti itu dalam pikiran kita, maka dengan sendirinya pikiran itu akan Drop (turun/hilang). Kesadaran itu sangatlah dibutuhkan, setelah kita mempunyai kesadaran maka sikap rendah hati juga akan timbul, Master mengatakan “Dalam keseharian kita harus berusaha untuk sadar, tidak mudah terpengaruh oleh kondisi luar”. Batin kita haruslah  Jìng  = Tenang / hening dan kita belajar untuk kearah itu, sehingga batin kita yang sudah tenang seperti air yang jernih dengan sendirinya Kebijaksanaan kita akan terus meningkat/bertambah.

Leo Shixiong => Saya sering mendengar tentang  心款 , 念純  Xīn kuǎn , niàn chún = Hati yang Lapang dan Pikiran yang Murni. Kalau diartikan dengan lebih luas, 上人Shàng rén (Master) mengatakan 心款不傷人 , 念純不傷己 = Xīn kuǎn bù shāng rén , niàn chún bù shāng jǐ “ Hati yang lapang tidak mencelakai orang lain , Pikiran yang murni tidak mencelakai diri sendiri.


靜思語  Jìng sī yǔ  (kata perenungan) Master Cheng Yen :
“Akur dengan orang lain begitu sulit, menyinggung orang lain begitu mudah”.

Wahyuni Lo Shijie => Pada dasarnya setiap orang mempunyai jalinan jodoh dari kehidupan sebelumnya. Tipe manusia ada 2 macam yang datang kepada kita, yaitu: ada yang datang untuk memupuk jasa kebajikan dan ada yang datang untuk menagih hutang karma kepada kita. Kalau kita sulit untuk bisa akur dengan orang lain, berarti dalam kehidupan yang lalu belum membuat jodoh baik, mungkin ada orang-orang tertentu yang tidak bisa akur, seperti kalau dia mengatakan pendapat A dan yang lain mengatakan B maka tanpa sadar kalau mereka berkomunikasi antara satu dengan yang lain tidak pernah sejalan dan apapun yang disampaikannya membuat salah satunya tersinggung.

Hok Lay Shixiong => Menyinggung orang lain atau diri sendiri memang begitu mudah, bukan hanya menyinggung orang lain itu mudah tapi diri kita sendiri juga mudah untuk tersinggung. Saya dengan orang lain itu sama, saya adalah orang lain dan orang lain adalah saya. Jadi kenapa saya mudah tersinggung? Karena saya tidak bisa menerima, tidak bisa memahami dan tidak bisa memaklumi baru bisa tersinggung. Kalau saya bisa memaklumi  dan bisa menerima kata-kata dari yang lain tentunya saya tidak akan tersinggung. Kita di Tzu Chi ada Sup 4 rasa, yaitu: 知足  Zhī zú (Berpuas Diri), 感恩  Gǎn ēn (Bersyukur), 善解  Shàn jiě (Berpengertian), 包容  Bāo róng (Memaklumi / bertoleransi).  Kalau saya Bersyukur mempunyai teman dan berjodoh dengannya, bagaimana saya bisa tersinggung kalau dia berbicara? Kalau saya Memahami  saat dia lagi stress dan sedang banyak urusan lalu dia berbicara agak kasar, bagaimana saya bisa tersinggung?, jadi kalau Sup 4 rasa ini kita minum terus setiap hari dan ada orang yang marah/bicaranya kasar terhadap kita, dan kita berfikir “Ah, mungkin dia lagi labil jadi maklumi saja” maka kita tidak akan tersinggung. Begitu juga kalau kita berbicara kepada orang lain harus kita jaga, karena saya bersyukur ada teman jadi saya harus jaga omongan saya supaya tidak melukainya, jangan sampai kata-kata saya membuat ia kecewa dan bukan dengan kata-kata seperti “Saya kalau ada salah maaf yah, saya lagi bete nih”, kita tidak boleh seperti itu.

Ada kata perenungan Master “Jadilah kita orang yang Pemaaf , tapi jangan menjadi orang yang selalu meminta maaf” misalnya kita berulang kali meminta maaf tapi kita terus mengulangi lagi kata-kata yang bisa melukai,  jadi kita melakukan kesalahan berulang-ulang. Dengan minum Sup 4 rasa Tzu Chi ini setiap hari, kita jadi bisa lebih berhati-hati dalam berbicara dan juga ada Gan En, Zun Zhong, Ai . Zun Zhong / Menghormati, bagaimana kita menghormati orang lain? waktu kita berbicara dengan orang lain dan waktu meminta pendapat orang lain, kita juga selalu menghormati. Kalau saya meminta pendapat dengan orang dan pendapatnya itu tidak sesuai dengan keinginan saya, maka saya terima saja dan tidak mendebat orang itu karena kalau kita debat malah ia akan tersinggung.

Johan Shixiong => Akar karma buruk sangat mewarnai apakah kita bisa atau tidak untuk akur dengan orang lain. Jadi bagian dari pelatihan diri kita selain menyadari adanya Lobha, Dosa, Mohha tapi kita juga harus menyadari adanya Manna / kesombongan dan adanya keraguan. Oleh sebab itu akan mewarnai seberapa besar pelatihan diri kita. Manusia adalah produk budaya, dimana saya lahir, tumbuh besar dan di didik, saya mewarisi sistem nilai yang berlaku dimasyarakat. Kita yang berada dikomunitas ketimuran membuat kita harus mengalah kepada orang / sedikit merendahkan hati, tapi kalau kita lahir di Barat maka disitu mempunyai kebiasaan Sportive kalau kita bersaing maka kita jangan mengalah pada orang karena itu tidak sopan, misalnya kita saat bersaing sengaja mengalah supaya ia bisa menang tapi ia akan marah pada kita karena kita tidak sportive. Jadi system penilaian yang berbeda kalau melihat permasalahan yang sama, hasilnya tidak akan sama / berbeda.

Bambang Shixiong => Si monyet ini sebenarnya tidak menjadi target, tapi karena kesombongannya akhirnya ia di panah dan mati. ini sama juga seperti kehidupan kita seandainya kita berjalan dan melewati suatu gang yang banyak premannya, kalau saat kita lewat jalan itu kita sopan kepada mereka maka mereka tidak akan mengganggu kita. Tetapi kalau kita lewat dengan sikap menantang maka itu akan menjadi pertengkaran, kalau saya hanya sendiri dan mereka itu banyak maka saya akan seperti monyet dalam cerita ini yang mati dipanah.

Wahyuni Shijie => Setiap manusia memiliki noda batin, salah satunya kita tidak bisa melihat kedalaman dari isi hati manusia, dari luar kita melihat dia ini diam tapi kita tidak tahu bahwa batinnya tersinggung. Jadi pada dasarnya harus mempunyai toleransi yang tinggi, mungkin karena dari lingkungan keluarga yang berwatak keras membuat ia berbicara dengan nada keras, mungkin dengan ucapannya itu ia tidak bermaksud untuk menyinggung tapi secara tidak sengaja sudah menyinggung orang lain.

靜思語  Jìng sī yǔ  (kata perenungan) Master Cheng Yen :
“Terhadap diri sendiri kita harus rendah hari dan bisa menerima pendapat orang lain, terhadap orang lain hendaknya kita menghargai kesempatan dapat bergaul dan bekerja sama”.

Gan en.

Kamis, 11 Oktober 2012

KEGIATAN : BEDAH BUKU, HE QI: UTARA

Tema : Keindahan Kehidupan/生活美學 Sheng Huo Mei Xue
            1. “轉彎看世界 Zhuan Wan Kan Shi Jie” Berputar Melihat Dunia
            2. “雙頭鳥 Shuang Tou Niau” Burung Berkepala Kembar
Sharing by : 許榮祥 Xu Rong Xiang Shixiong (salah satu komite dan pembimbing senior Bedah Buku Taiwan)
Penerjemah : Hendry Zhou Shixiong
Lokasi :  Jing Si Books & Cafe Pluit
Waktu : 11 Oktober 2012, 19.00-21.00 WIB
Jumlah Peserta : 59 orang

Sharing by Xu Rong Xiang Shixiong :
Dengan hati merasakan keindahan hidup di manapun juga. Membaca adalah awal dari semua keindahan kehidupan. Bila membaca dilakukan satu orang, maka hanya satu orang yang mendapat kegembiraan. Bila bersama-sama membaca, maka setiap orang akan mendapat hal-hal menarik yang berbeda.

Untuk saat ini mari kita buang semua cara bedah buku yang biasanya, kita akan mencoba cara baru yang lebih menarik. Kita akan menggunakan suasana yang santai, ceria, dan hangat dalam bedah buku yang berbudaya humanis ini. Keindahan budaya humanis akan terpancar secara alami. Hati dan pikiran akan terbuka dan terasa lebih lapang. Mari kita sama-sama membuka jendela keindahan dalam kegiatan membaca bersama ini.

Tanggal 7 Oktober yang lalu adalah hari peresmian Jing Si Tang, bangunan yang sangat agung, megah, dan kokoh. Di dalamnya terdapat Universitas Pengembangan Masyarakat (Tzu Chi Learning Centre). Learning Centre seperti ini sudah ada di Taiwan, terdapat 20 cabang di sana, dan di Malaysia serta Singapura juga sudah ada. Cabang di Indonesia akan segera dibuka, pada kesempatan ini mari kita mencoba belajar salah satu temanya.

Tema hari ini adalah : 轉彎看世界 Zhuan Wan Kan Shi Jie/ Berputar Melihat Dunia.
Melalui musik dan isyarat tangan, kelas ini bertujuan membuat hati kita lebih lembut, membangun interaksi positif serta kekompakan bersama. Melalui cerita sederhana, kita bisa mendalami dharma dalam cerita untuk mengintrospeksi diri. Dan melalui sharing Kata Perenungan, kita bisa memilih solusi yang paling sesuai bagi kita. “Cerita sederhana dengan makna yang dalam,” sehingga kegiatan Bedah Buku akan terasa menarik penuh sukacita, dan mendalam.

(Xu Shixiong mengajak semua peserta mendengar lagu 轉彎看世界 sambil menyimak liriknya, dibarengi dengan isyarat tangan dari Su Hui Shijie)


轉彎看世界 :

“春雨綿綿落袂停  熱天赤焰亂心神
Hujan musim semi turun tak henti
Musim panas sangat membuat hati kacau

秋葉飄零親像阮  冬天霜雪也無情
Dedaunan musim gugur beterbangan menerpa diriku
Salju di musim dingin juga tak berperasaan

人講花無百日紅  袂凍萬事照希望
Orang bilang tidak ada bunga yang mekar selamanya
Tidak semua hal terjadi sesuai harapan

若是轉彎看世界  四季就攏無同
Bila berputar melihat dunia
Empat musim semuanya tidak ada yang sama

春天花開人輕鬆  夏天清風透心涼
Bunga bermekaran di musim semi, orang-orang tiada beban
Angin sepoi-sepoi musim panas menyejukkan hati

秋天月圓正當時  冬筍回甘又春天
Bulan purnama tepat di saat musim gugur
Musim dingin berakhir, bertemu lagi dengan musim semi”

 Sharing peserta mengenai lagu 轉彎看世界 :
  • Suka dengan shouyunya (isyarat tangan)
  • Suka dengan lirik lagunya
  • Lagunya sangat bagus, hati akan tenang bila melihat segala sesuatu dari sisi positif, bila ada masalah, itu pasti akan berlalu juga.
  • Tidak semua hal bisa terjadi sesuai harapan. Yang tidak sesuai bukan berarti tidak baik, yang sesuai juga belum tentu baik. Bersyukur atas semuanya, maka semuanya adalah baik.
  • Inti dari lagu ini adalah agar kita belajar melihat segala sesuatunya dengan berputar, yaitu melihat dari sisi lain.




Sharing by Xu Rong Xiang Shixiong :
Pada sesi berikut ini kita akan membaca buku. Sebuah kisah sederhana dari buku “Membeli Kebijaksanaan”, yaitu “Burung Berkepala Kembar”.



















"Burung Berkepala Kembar"

Alkisah ada seekor burung berkepala kembar. Saat kepala yang satu beristirahat, kepala yang lain harus tetap sadar untuk berjaga. Salah satu kepala sangat suka tidur sehingga kepala yang lain harus selalu sadar. Suatu saat ketika kepala yang suka tidur sedang tertidur pulas, kepala yang sadar memakan buah yang jatuh di dekatnya tanpa membangunkan kepala yang sedang tidur. Ketika kepala yang suka tidur itu mengetahui ia tidak dibangunkan, ia pun merasa kesal dan berniat membalas dendam. Karena itu ketika mereka bergantian berjaga, kepala yang suka tidur mendapati ada sebutir buah yang jatuh di dekatnya, namun buah itu beracun. Kepala yang suka tidur itu, akhirnya memakan buah tersebut, ia berpikir seandainya mati pun mereka akan mati bersama.

Kepala yang suka tidur adalah kehidupan lampau Devadatta, sedangkan kepala yang selalu sadar adalah sang Buddha. Pikiran manusia sangatlah sulit dikontrol, terhadap Devadatta yang adalah adik sepupu dan akhirnya menjadi muridnya saja, Buddha kesulitan mengubah sifatnya. Melatih diri haruslah mengandalkan diri sendiri. Hanya dengan melatih diri sepenuh hati, bersedia bekerja keras untuk melenyapkan ketamakan, kebencian, kebodohan, kesombongan, dan kecurigaan, barulah kita dapat melenyapkan noda batin. Jika tidak demikian, ibarat terlahir sebagai burung berkepala kembar yang memiliki tubuh yang sama, tetap akan memiliki niat buruk mencelakakan orang lain. Dengan menyakiti orang lain, sesungguhnya kita sedang menyakiti diri kita sendiri.

 Sharing peserta mengenai cerita “Burung Berkepala Dua” :
  • Kepala yang memakan buah sendiri tanpa membangunkan kepala yang suka tidur, ada beberapa sebab : karena ia tamak, maka ia makan sendiri; karena ia tidak tega membangunkan kepala yang sedang tertidur pulas; karena walaupun ia yang makan, tapi akan sama-sama kenyang juga.
  • Cerita ini ada hubungannya dengan hukum karma, yang rajin akan mendapatkan buah manis, yang malas akan mendapatkan buah beracun.
  • Devadatta adalah sepupu Buddha, tapi pelatihan diri adalah masing-masing, siapa yang melatih maka dialah yang mendapat.
  • Semuanya tergantung pikiran kita, bila kita berpikiran positif maka semuanya adalah baik, bila berpikiran negatif maka semuanya adalah tidak baik.
  • Jangan karena perbuatan baik yang kecil sehingga tidak mau melakukan, marilah kita sedikit demi sedikit melakukan kebaikan setiap ada kesempatan.
Sharing by Xu Rong Xiang Shixiong :
**Mendengar begitu banyak sharing dari Shixiong Shijie semua, saya juga banyak belajar. Kembali melihat ke kehidupan nyata, mungkin kita pernah bertemu dengan situasi seperti burung itu, kadang kita tidak ada niat buruk tapi muncul efek yang tidak kita harapkan. Kadang kita ada sedikit ketamakan dan merasa itu tidak apa-apa, tapi sesungguhnya efeknya sangat menakutkan.


**Hati dan pikiran yang polos, niat yang murni, yaitu dengan cara : dalam kehidupan ini menjadi orang yang berperasaan netral, maka setiap hal yang menurut orang lain baik atau buruk, tidak akan mempengaruhi kita. Kedengarannya sangat sulit dibayangkan. Bila masalah datang, maka timbul persepsi, bila terasa tidak enak maka akan terasa terluka, hal seperti ini adalah suatu pelatihan yang harus kita latih terus.

**Orang-orang yang kita temui dalam kehidupan ini (yang berjodoh dengan kita) dapat digolongkan menjadi dua jenis :
  • Yang datang membalas kebaikan kita
  • Yang datang ‘menagih hutang
Shixiong Shijie perhatikan sendiri orang-orang yang ditemui, apakah mereka datang untuk membalas kebaikan kita atau menagih hutang, kemudian bagaimana cara kita menyikapinya?
Kita bisa bertemu di sini dan pada saat ini karena adanya jalinan jodoh. Bila seseorang itu datang untuk membalas budi, maka kita biasanya merasa nyaman ketika bertemu dengannya, kita bisa terima apapun yang dilakukannya. Namun bila kita memiliki niat tulus mau ‘ditagih hutang’, hendaknya kita bertekad untuk membayar hutang itu dengan lunas, karena dengan demikian akan membantu agar kita terlahir di alam sukhavatti.

**Setiap kegagalan, kemunduran, kesedihan, dan kesulitan, hanyalah sebuah potret sementara dalam perjalanan hidup ini. Mungkin saja belokan atau putaran berikutnya, yang menunggumu adalah : sebuah senyuman, sebuah seruan, sebuah kejutan, sebuah keramaian yang berlangsung lama, sepasang raut mata anak kecil yang sepenuhnya menerima dirimu.



**Kata Perenungan : 心寬不傷人, 念純不傷己 xin kuan bu shang ren, nian chun bu shang ji.
Dengan berlapang dada maka tidak melukai orang lain, dengan berniat murni maka tidak melukai diri sendiri. Dengan demikian barulah tidak akan timbul perselisihan atau bahkan dendam kepada dengan orang lain. Dengan mengubah pikiran, maka kehidupan juga ikut berubah. Menggenggam erat jalinan jodoh yang ada, memanfaatkan potensi dalam kehidupannya, adalah orang yang paling penuh berkahnya.

Gan En _/\_

Kamis, 27 September 2012


KEGIATAN : BEDAH BUKU, HE QI : UTARA

Tema : "ladang Pelatihan Terletak Pada Batin Sendiri"
Pembicara : Sharing bersama ( Sharing Ceramah Master Sanubari Teduh)
Mc : Sjukur sx
Lokasi : Jing Si Books & Café, Pluit.
Waktu : Kamis, 27 September 2012 Pkl: 19:00 – 21:00
Jumlah peserta : 26 orang

Ceramah Master Cheng Yen

Beginilah kehidupan, kita harus senantiasa berteguh hati menghadapi kondisi yang berubah-rubah. Apa yang tidak berubah ?, itulah hakikat diri kita, benih KeBuddhaan yang murni tanpa noda, namun kita membuat hakikat yang murni tanpa noda dan tidak berubah ini tertutupi lapis demi lapis noda batin yang timbul karena adanya kontak dengan luar. Meski hakikatnya tak pernah berubah, namun dengan adanya kontak dengan dunia luar pikiran kita mengalami penyimpangan, batin kita memiliki kecenderungan untuk menyimpang, kondisi luar demikian adanya. Namun kenyataan batin kita mudah terpengaruh dengan kondisi luar. Pepatah kuno mengatakan “ bunga tidak membuai, manusialah yang terbuai, arak tidak memabukkan manusialah yang mabuk”. Selama hati kita tidak tergoyahkan kita tidak akan terpengaruh.


Karma buruk ini muncul akibat pelanggaran melalui 3 pintu karma maupun kelalaian. melalui 6 indra, muncul akibat pikiran salah dari dalam batin atau akibat kemelekatan akan kondisi luar.

Pikiran salah muncul dari dalam batin kita sendiri, tabiat terakumulasi sejak lama. Saat bersentuhan dengan kondisi luar batin kita bereaksi, sebagai akibat dari berbagai kondisi yang muncul, pikiran serta pandangan kitapun akan mengarah pada arah yang menyimpang, begitu pikiran menyimpang kita akan mudah terpengaruh oleh objek luar seperti suara, rupa, rasa dan objek lainnya.

6 indra
Mata, telinga, hidung lidah, tubuh dan pikiran
6 objek
Rupa, suara, aroma, rasa, sentuhan, objek-objek pikiran. 

Ketika 6 indra mengalami kontak dengan 6 objek akan terangsang dan terpengaruh, kesadaran juga ikut bereaksi. 6 indra terangsang objek, kesadaran berpikir ini menggerakan 7 cabang karma, 3 melalui tubuh, 4 melalui ucapan. Kesadaran menggerakkan terciptalah perbuatan buruk . ini merupakan hasil pikiran yang menyimpang yang muncul dari dalam batin. Karena mengalami berbagai macam kontak, banyak pemikiran timbul dari dalam batin, jika pikiran menyimpang artinya menjadi keliru, maka pandangan kita akan menjadi menyimpang dan keliru.

Karma melalui tubuh
Membunuh, mencuri berbuat asusila
Karma melalui ucapan
Bertutur kata kasar, berdusta, berkata-kata kosong, bergunjing.

Dalam melatih diri kita harus menjaga fisik dan batin artinya senantiasa berintropeksi apa  yang baru kita ucapkan itu salah, setelah berbicara dan berbuat kelak kita masih memperbaiki yang salah karena kita mahluk awam. Kita memiliki akumulasi tabiat buruk sejak dulu, yang sering muncul tanpa kita sadari, inilah energi dari tabiat atau kebiasaan. Tabiat ini seringkali bersentuhan dengan dunia luar dan terwujud dalam perbuatan. Jika kita terbiasa bertemperamen tinggi maka ketika kondisi tidak sesuai dengan harapan, kemarahan dan kebencian kita akan bangkit, sikap dan tutur kata kita tidak baik, inilah yang disebut tabiat buruk. Setelah bertekad untuk melatih diri kita harus waspada dan sadar “ mengapa saya berbicara kasar”, “mengapa nada bicara saya tidak menyenangkan”, “mengapa begitu cepat saya menuturkan ucapan yang menyakiti orang lain”. Jika kita dapat mengendalikan diri dan menjaga baik-baik hati kita, kebencian dan kemarahan ini dapat segera kita kendalikan dan tak sampai keluar. Membahas 7 cabang karma bagaikan anak panah yang tidak dapat ditarik kembali setelah dilepaskan. Inti melatih diri adalah ketika tabiat buruk muncul kita segera mengendalikan, jika kita sungguh memulainya dari dalam batin, maka ketika pikiran muncul kita tidak akan berjalan kearah yang menyimpang , apabila menyimpang sedikit saja, maka segala perilaku kita juga ikut menyimpang.

“Jagalah kesadaran selalu, ketika tabiat buruk muncul kendalikan dan perbaiki segera inilah yang disebut melatih diri”. 

Ketika virus SAR muncul saat seseorang diketahui mengalami kontak dengan penderita, cara terbaik dikarantina, orang lain dapat mengantarkan makanan baginya, saat seperti inilah adalah waktu yang terbaik untuk melatih diri, namun ada orang yang merasa takut bila orang lain mengetahui bahwa ia telah mengalami kontak penderita. “jika saya beritahu orang lain, apakah saya akan dikarantina?”. Karena itu ia tutupi, jika terus ditutupi ketika ia benar-benar terjangkit, maka sudah terlambat bukan hanya terhadap diri sendiri tetapi juga bisa menularkan kepada orang disekitarnya. Virus adalah analogi bagi kita para praktisi untuk menggambarkan kekotoran batin. Kita sering menyebut ketamakan, kebencian, kebodohan dalam batin sebagai 3 racun atau virus, jika tidak segera dibasmi maka setiap saat mungkin menular pada orang lain, mempengaruhi pelatihan orang lain dan membuat jalannya menyimpang. Kita harus menyayangi diri kita sekaligus mengasihi orang lain. Lahan pelatihan memiliki energi pelatihan , dan energi pelatihan bagaikan karantina bagi kita, dengan adanya energi pelatihan ini, kita dapat terhindar dari ketidak murnian, lihatlah rumah sakit saat ini dilengkapi dengan ruangan steril, bagaimanakah cara mensterilkan ruangan?, dengan menggunakan sinar ultraviolet, setelah sistem ini diimplementasikan maka setiap orang yang lewat akan segera tersterilisasi, kini teknologi seperti ini telah diketemukan, tetapi sesungguhnya sejak jaman dahulu, sang Buddha sudah menemukan dan membabarkan  kesucian dicapai dengan mengubah pola pikir,  ada sebuah pepatah berbunyi “Noda batin tak berbeda dengan Bodhi begitu pula sebaliknya, jika kita terpengaruh kondisi luar dan kehilangan kemurnian kesadaran kita, maka masalah akan terus timbul, noda batin dan tabiat buruk ini tak hentinya mengaduk batin kita sehingga terus ternoda, hakikat diri yang ternoda sesungguhnya murni dan suci. Saudara sekalian dengan berbagai cara saya menjelaskan ini semua bertujuan menunjukkan bahwa pikiran benar adalah inti pelatihan diri, pikiran menyimpang menciptakan karma buruk, pikiran sumber segala kesalahan, jadi pikiran ini harus sungguh-sungguh kita jaga dengan baik, jika tidak akan menciptakan karma buruk dalam setiap ucapan dan tindakan. Karma buruk muncul sebagai akibat  kemelekatan akan kondisi luar, dalam menghadapi kondisi luar semua tergantung pada pola pikir dan sikap yang kita gunakan. Semua yang ada, bunga, rumput dan kayu semuanya terlihat indah, jika kita melihatnya dengan hati yang jernih dan hening. Kita hendaknya dapat menghargai dan bersyukur atas apa yang ada di bumi ini, yang memungkinkan kita memiliki tempat tinggal yang indah. Lihatlah bila melihat segala sesuatu dengan penuh rasa syukur, bukankah kita akan diliputi dengan kebahagian. Berjalan dengan rasa syukur kita melangkah dengan lembut agar tidak menyakiti bumi, sikap menyayangi bumi sepeti ini karena ada rasa syukur, bayangkan jika sepanjang hari kita berpikir demikian, manakah yang membuat tidak bahagia?. Kita banyak memikirkan cara  untuk mengubah kondisi luar, rubahlah dengan mengubah pola pikir kita, jangan biarkan kondisi luar yang mengubah batin kita, jika demikian kita akan menderita, dan kemelekatan akan mudah timbul dalam batin kita dan akan membawa kerisauan. Jika dalam batin kita timbul ketamakan kondisi ini akan merasuk dalam batin dan meninggalkan jejak yang disebut kemelekatan, ketika melihat suatu kondisi kita merasakan keindahan dan bersyukur , setelah berlalupun kita tidak akan melekat. Dalam batin manusia pada dasarnya terdapat potensi dan hakikat murni namun hakikat yang murni ini belum dapat terbangkitkan, ketika dapat terbangkitkan inilah yang di sebut pencerahan.

Mengubah kondisi luar dengan mengubah pola pikir merupaka sikap bijaksana, membiarkan kondisi luar mempengaruhi kondisi hati merupakan noda batin.

Di Amerika tersiar sebuah berita, ada seorang wanita yang merokok hingga terkena kanker paru-paru, dan ia pun tahu penyebabnya adalah rokok, iapun menuntut perusahaan rokok tersebut dan meminta ganti rugi dengan jumlah yang sangat besar. Berita ini sangat menyita perhatian, mereka bertikai lama di pengadilan, wanita ini sudah merokok selama 40 tahun, putrinya memintanya untuk berhenti merokok tetapi ia menjawab saya orang dewasa memiliki kebebasan. Saat masih belia ia sudah mulai merokok dan orang tuanya memintanya untuk berhenti merokok, namun ia tidak menghiraukannya, dokter memperingatkannya agar dapat berhenti merokok tetapi ia tetap tidak dapat berhenti dari kebiasaanya merokok, penyakitnya menjadi akut, dokter memvonis kankernya telah mencapai stadium akhir. Menjawab tuntutan wanita perokok tersebut perusahaan rokok mengatakan dalam kemasan rokok  sudah terdapat peringatan dan petunjuk komposisi , anda sendiri yang tidak dapat berhenti merokok, meminta ganti rugi merupakan hal yang tidak masuk akal, persidangan berjalan cukup lama, akhirnya perusahaan rokok tersebut kalah namun tuntuntannya tidak terpenuhi semuanya. Rokok tidak pernah meminta wanita tersebut untuk menghisapnya, pikiran wanita tersebutlah yang melekat sehingga akhirnya menyebakan ia sakit dan meninggal dunia, terkadang kita tidak habis pikir, apa enaknya merokok, mengapa sangat sulit untuk berhenti merokok, ia hanya dihisap sebentar, didalamnya tidak ada apa-apa hanya asap yang terlihat, tekad manusia demikian tipis, inilah kemelekatan yang sudah sangat dalam sehingga sulit untuk lepas. Kehidupan kita lewati dengan penuh noda batin, 3 racun memenuhi keseharian kita sehingga perbuatan kita menjadi penuh kesalahan, sepatah kata yang terucap tanpa sengaja, mungkin dapat membawa potensi masalah. Kata-kata sangat mudah diucapkan, namun dalam berorganisasi ataupun hubungan antar keluarga.kata-kata yang diucapkan dengan ringan dan sambil lalu dapat menimbulkan masalah.

Noda batin terletak pada pikiran kita sendiri, jadi harap kita semua ingat dalam batin kita terdapat sesuatu yang tak pernah berubah dalam kondisi apapun yakni hakikat dan potensi diri kita, ketika berhadapan dengan noda batin kita memiliki potensi untuk mengikisnya asalkan kebijaksanaan kita mulai terbuka dan potensi yang ada dalam diri kita terbangkitkan, bagaikan antibodi yang terdapat dalam tubuh kita, semua permasalahan hidup akan lenyap ketika ia sampai pada tubuh kita karena itu sering  dikatakan tertawa membuyarkan segala kerisaua, jadi bergembiralah selalu, hadapilah kehidupan dengan hati yang terbuka .

Jagalah hati selalu setiap ucapan dan tindakan merupakan pintu gerbang terciptanya karma.

Sharing dari berbagai peserta


Erli Sj :
Terpengaruh dengan kondisi luar ada hubungan dengan pembahasan buku 20 kesulitan dalam kehidupan dimana dikatakan “sulit untuk tidak terpengaruh dengan kondisi luar “, memang sulit untuk tidak terpengaruh dengan kondisi luar. Saya juga pernah membaca buku Ajahn Chah, batin adalah batin, kondisi luar merupakan fenomena jadi sebenarnya batin kita dan kondisi luar berbeda.

Lo Hok Lay Sx :
Kondisi luar mendistorsi, umpama saya berniat ke Jing Si Tang untuk pasang poster tetapi tiba-tiba ada teman yang mengajak saya makan Pizza dan ini membuat saya binggung, niat pertama tergoyahkan. Master Chen Yen mengatakan kita jangan mudah tergoyahkan, kita harus tumbuh kesadaran, niat baik jadi terlupakan karena kemelekatan.

Christine Sj :
Semua karena keakuan, kita harus dengan cinta kasih untuk menguranginya, kita harus memikirkan kenapa harus selalu melatih diri dengan baik. Di Tzu Chilah kita banyak belajar dan berbuat sebagai pelatihan.

Sufenny Sj :
Ucapan bagaikan anak panah, saya teringat apabila kita menyakiti orang lain seperti memaku pagar, bila kita mencabutnya tetap ada bekasnya, karena meminta maaf itu mudah, tapi sembuh dari luka dibatin itu lebih sulit karena memerlukan waktu. Alangkah baiknya sebelum kita bertindak dan berucap kita pikirkan terlebih dahulu.



Melliza Suhartono Sj :
Saya mempunyai pengalaman, teman saya mempunyai karakter emosional, saat ia bersama temannya sedang naik mobil tiba-tiba diselip oleh kopaja dank arena kesal ia melakukan tindakan terhadap supir kopaja tersebut, apabila ia dapat mengendalikan kemarahan ia tidak akan berbuat seperti itu. Semakin cepat kita melatih diri semakin cepat hasilnya . saya juga punya pengalaman dengan teman saya lainnya ia suka menyakiti kucing karena ia pernah mempunyai ikan lohan dan dimakan oleh kucing, sehingga ia menjadi dendam terhadap kucing, ini diakibatkan keakuan apabila ia dapat melepaskan keakuan tentu ia tidak akan dendam dan menyakiti kucing.


Yogi Sx :
Musuh paling terbesar diri sendiri, saya hampir beberapa bulan tidak hadir, saya sempat ada konflik dengan temen saya yang memiliki sifat kasar, dan dirumah saya sempat menyesal , saya harus ke Tzu Chi lagi.

Jodie Lienardy Sx :
Meneruskan apa yang disampaikan, membahas noda batin, 3 racun, saya menyimak apa yang Master Cheng Yen katakan agar kita mempunyai kesadaran. Kondisi dan situasi kita selalu berubah. Dlihat dari sudut pandang masing-masing sesungguhnya kita mencari kebenaran, ada hal yang baik untuk kita belum tentu baik untuk lainnya, begitu pula sebaliknya, agar dapat menjalankan sesuatu dengan sebaik-baiknya perdalam keyakinan diri, apabila kita berlatih 5 sila dan dapat menjalankan dengan sebaik-baiknya terdapat kesadaran didalamnya.

Johar Chow Sx :
Jika ada masalah tidak kita selesaikan maka akan timbul masalah baru lainnya, Jisou sx pernah memberikan tips agar kita mereview apa yang kita lakukan dari pagi hingga malam, kita harus banyak mempraktekan dan banyak mencoba.

Posan Sx :
Saya amati batin bagaikan kaca yang bening tidak tercemar, murni dan polos, kita mudah melihat dengan jelas dan pada dasarnya ada kondisi luar yang mempengaruhi (debu-debu yang mengotori), batin bila tidak dibersihkan akan menjadi karakter yang sulit dibersihkan, Master Cheng Yen mengatakan agar kita membersihkan dengan air (dharma), sama  seperti rumah yang harus selalu kita bersihkan. Pada saat marah kita  harus sadar apa yang akan kita lakukan, Master mengatakan kemarahan adalah kegilaan sesaat , menghukum diri sendiri dan menjalin jodoh buruk dengan orang lain. Hendaknya kita setiap hari harus sadar untuk selalu membersihkan diri kita (membersihkan noda batin kita).

Edi Sx :
Saya baru dua kali datang ke bedah buku, jadi saya tidak memahami secara mendalam, saya mengharapkan agar para senior atau yang lama memberikan dukungan terhadap yang junior, senior tidak berpandangan pada fisik seseorang, dalam arti saya yang mempunyai usia lebih tua dari yang lainnya merupakan senior tetapi walaupun usianya lebih muda tetapi sering mengikuti kegiatan dan mempunyai pengalaman yang lebih banyak, Posan Sx mengatakan dari Edi Sx kita belajar kerendahan hati dan mau banyak belajar, sangat bijaksana.

Marie Nagatani Sj :
We are from Japan teaching healting message, we could come here because Posan Sx , I do not understand what are you talking about but I feel the energy from you, passion from you, you are doing something and I know it’s very difficult, we hope we can join Tzu Chi, next our seminar in Osaka, Japan. I hope we could visit Tzu Chi Office at Osaka, Japan.


Leo Samuel Salim Sx :
Tubuh ini bisa sakit karena apa, karena tidak kita sadari ada bakteri atau virus yang masuk ke dalam tubuh kita, yang harus kita lakukan adalah memberikan imun kepada tubuh ini, sama halnya dengan kekotoran batin ini, yang bisa senantiasa datang dan menutupi cermin batin kita, layaknya selapis demi selapis debu yang menutupinya. Shang ren mengatakan membiarkan kondisi luar merubah kondisi hati adalan fan nao (kerisauan batin), tapi kondisi hati yang dapat merubah kondisi luar adalah bijaksana. Sadar atau tidak setiap kita membuka mulut dan lidah kita bergerak, serta tangan dan kaki kita bergerak kita telah menciptakan karma, jadi apapun itu akan menciptakan karma. Kembali ke diri kita apa kita hendak menciptakan karma baik atau buruk.

Gan en

Kamis, 20 September 2012

KEGIATAN : BEDAH BUKU, HE QI : UTARA

Tema : “Sharing Kata Perenungan Master Cheng Yen”
Pembicara : Sharing peserta
Lokasi : Jing Si Books & Café, Pluit.
Waktu : Kamis, 20 September  2012 Pkl: 19:00 – 21:00
Jumlah peserta : 21 orang


做中學,學中覺,覺中悟  
Zuò zhōng xué, xué zhōng jué, jué zhōng wù  
Dalam melakukan kita belajar, dalam belajar kita memperoleh kesadaran, dengan penuh kesadaran kita melakukan

Sharing Thomas shixiong :
Thomas shixiong merasa kata perenungan tersebut sangat mencerminkan bagaimana keanggotaan beliau di Tzu Chi. “Sebelum di Tzu Chi saya belajar dari membaca buku – buku Dharma, saya banyak membaca buku Dharma sehingga timbul “kesombongan” dan merasa saya lebih tahu Dharma daripada orang lain” Ungkap Thomas shixiong. Namun, setelah bergabung di Tzu Chi kemudian baru tersadarkan bahwasannya beliau belum melakukan apa – apa. Di Tzu Chi kita “melakukan,” saat melakukan mendapat pencerahan. Menyadari  tidak hanya “melakukan” saat berkegiatan di Tzu Chi tapi juga dapat dipraktikkan dalam keseharian. Thomas shixiong  juga belajar menghadapi kritikan ataupun saran –saran dari relawan lainnya. Yang terpenting adalah dalam melakukan segala hal hendaknya dilakukan dengan penuh kesadaran. Thomas shixiong merasa satu kalimat ini terdapat makna yang sangat dalam.

Sharing Hok Lay shixiong :
Dalam Buddhism ada istilah Ehipasiko, artinya datang, lihat, dan buktikan sendiri. Kita tahu hidup adalah penderitaan tapi, apakah sebenarnya penderitaan itu? Banyak hal yang tidak pernah kita tahu. Namun, dalam berkegiatan  kita belajar, kita menyadari betapa beruntungnya kita. Setiap orang ada benih Buddha tetapi tertutupi oleh kekotoran batin.  Di Tzu Chi kita belajar untuk mengembangkan cinta kasih, belajar berpuas diri. Jangan hanya melihat apa yang belum kita miliki tapi lihatlah apa yang sudah kita miliki saat ini, harus bersyukur dengan kehidupan yang sudah kita miliki saat ini, jika tidak mensyukuri kehidupan kita sendiri bagaimana bisa kita membantu orang lain? Jadi, harus mensyukuri apa yang kita miliki terlebih dahulu disaat hati dipenuhi oleh rasa syukur barulah kita dapat bersumbangsih.


Melalui kunjungan kasih kita melatih untuk menemukan sifat –sifat welas asih kita, kita belajar memikirkan perasaan orang lain. Belajar bertutur kata baik, misalkan dalam menjelaskan prosedur atau kebijaksanaan dari yayasan semua harus diberitahukan pelan-pelan agar tidak menyinggung perasaan orang lain. Itulah mengapa didalam berkegiatan kita belajar. Melihat segala sesuatu jangan langsung berasumsi tapi harus ditanyakan terlebih dahulu karena apa yang kita lihat belum tentu adalah yang sebenarnya.

Sharing Jusladi shixiong :
Saat mengikuti kegiatan seperti kunjungan kasih dan melihat pasien penerima bantuan Jusladi shixiong menyadari penting untuk membuat “hati” nya tenang dulu barulah mengobati penyakitnya. Jusladi shixiong juga merasa penting bagi relawan Tzu Chi untuk memulai dari kasus agar tekad bisa menjadi lebih kuat. Dari kegiatan kunjungan kasih juga bisa menumbuhkan cinta kasih kita.


自造福田,自得福緣
Zì zào fú tián, zìdé fú yuán
Diri sendiri menciptakan ladang berkah, diri sendiri yang akan mendapatkan jalinan berkah



Sharing Hok Lay shixiong :
Dalam bekerja jangan hanya mengejar berkah, tapi harus tulus tanpa pamrih sehingga kita bisa merasakan kebahagiaan.

Sharing Leo shixiong :
Di Tzu Chi adalah praktik, dalam praktik kita merasakan sehingga akhirnya kita tersadarkan. Melihat dunia merasa beruntung bisa berbagi dan bisa belajar lebih banyak maka harus menggenggam berkah ini.  Misalnya saat melakukan survey kasus menyadari kesehatan sangat penting.

Dharma yang diajarkan oleh Master sangat sederhana namun yang terpenting adalah kita harus menjalankannya bukan hanya sekedar membaca.

自足,生活才會富樂安穩  
Zì zú, shēng huó cái huì fù lè ān wěn
Dengan mengenal rasa puas, kehidupan akan penuh rasa kesukacitaan dan ketentraman

Sharing Hok Lay shixiong :
Hoklay shixiong mengatakan bahwa sering terdengar kalimat seperti “Setelah saya tercukupi baru bersyukur”. Namun hendaknya kita ubah pemikiran tersebut menjadi “Bersyukur barulah tercukupi”.
Menyadari semua yang kita miliki adalah tidak kekal, dan “Giving is better than receiving”

Gan En.

Kamis, 13 September 2012

KEGIATAN :BEDAH BUKU, HE QI: UTARA

Tema : “Kakek dan Kura – Kura”
Pembicara : Hok Cun sx
Lokasi : Jing Si Books & Café Pluit
Waktu :Kamis, 13 September 2012, Pkl : 19:00 – 21:00
Jumlah Peserta : 36 orang

Acun sx di lahirkan di Tangerang, tahun 1972, mengenal Tzu Chi sejak tahun 1995 dan sangat bersyukur bisa berjalan di jalan Tzu Chi, anak ke 8 dari 16 bersaudara, pendidikan Acun sx tidaklah tinggi tetapi orang tuanya membesarkan saudara – saudara Acun sx dengan susah payah, masa kecil Acun sx di samping sekolah juga bekerja, dari kecil Acun sx sudah mengenal Togel, tapi Acun sx sangat bersyukur karena dia tidak terjerumus dalam dunia gelap. Acun sx juga sangat bangga kepada orang tuanya walaupun anak - anaknya banyak tapi sangat memperhatikan anak - anaknya untuk tidak terjerumus ke dalam hal – hal yang tidak baik. Awal perjalanan Acun sx di Tzu Chi karena karma baik maupun jodoh, disaat Acun sx bekerja di sebuah toko Acun sx mengenal seorang bhante dan pada saat itu beberapa relawan Tzu Chi yang datang ke Tangerang,  salah satunya adalah ibu Siu Mei (Ketua yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia), pada saat itu ibu Siu Mei ingin melakukan survey anak – anak asuh di Tangerang, lalu meminta Acun sx untuk menjadi  penunjuk jalan bagi para relawan tersebut, karena ibu Siu Mei tidak mengenal jalan di daerah Tangerang.

Walaupun tidak mengerti bahasa Mandarin yang di bicarakan oleh para relawan tersebut, Acun sx bisa merasakan cinta kasih dari para relawan tersebut, pada suatu hari pada saat survey ada seorang ibu yang sambil menangis  menghampiri ibu Siu Mei untuk meminta bantuan dia ibu tersebut berkata “Bisa tidak ibu tolong anak saya”,  ternyata anaknya menderita komplikasi lambung yang di baringkan di balai, dan dalam kondisi sekarat. Pada saat ibu tersebut meminta tolong dengan relawan Tzu Chi dan melihat cinta kasih dari para relawan ini hati Acun sx merasa terenyuh dan tersentuh.

Dalam hati Acun sx berpikir kenapa orang- orang ini  cinta kasihnya begitu besar, lalu ibu Siu  Mei berkata kepada Acun sx “ kamu carilah rumah sakit terbaik di Tangerang”, tapi Acun sx pada saat itu tidak pernah ke rumah sakit, dan Acun sx berkata  “ di sini tidak ada rumah sakit dan puskesmasnya jauh dari sini, dan kemungkinan anak tersebut tidak akan tertolong”. Lalu bu Siu  Mei berkata kepada Acun sx “kasih tahu ibunya jangan sedih kita akan bawah anaknya ke Jakarta”. Dengan  menggunakan mobil ibu Siu Mei anak tersebut akhirnya di bawa ke Jakarta tanpa menggunakan mobil ambulance dan tanpa peralatan medis, walaupun tanpa peralatan medis namun dengan adanya hati yang tulus dari para relawan Tzu Chi telah melebihi peralatan medis.

Pada saat itu  Acun sx  tidak begitu mengenal Tzu Chi. Namun setelah menyaksikan ketulusaan dari para Relawan maka Acun sx mendapatkan jawaban mengenai Tzu Chi, yaitu  Tzu Chi adalah  aliran hati cinta kasih kepada semua orang. Saat itulah Acun sx sadar dari titik kehidupannya yang  tidak mengenal kebaikan, dharma, dan hanya mengerti akan kegelapan batin, penderitaan, cara bertahan hidup akhirnya  menemukan cinta kasih yang luar biasa dari hati pada para relawan Tzu Chi. Pada saat di bawah ke Jakarta dan melihat rumah sakit yang besar dan lengkap Acun sx merasa seperti katak dalam tempurung yang hanya berteman dengan kecebong dan planton, namun setelah mengenal Tzu Chi,  Acun sx merasa seperti kura – kura di tengah samudera,  kenapa karena samudera begitu luas, luasnya di ibaratkan sebagai  cinta kasih Tzu Chi  di tengah samudra.

Itulah sekilas mengenai Acun sx, memasuki topic yang akan di bahas di ambil dari cerita Master Chen Yen yaitu Balas budi para binatang (kakek dan kura – kura)”, dalam cerita ini menceritakan ada seorang kakek yang menyelamatkan seekor kura – kura dari penjagalan, kemudian kura – kura tersebut di lepaskan ke laut, namun pada saat tengah malam kura – kura datang ke rumah kakek dan meberitahukan bahwa dalam beberapa hari lagi akan terjadi banjir besar yang akan menenggelamkan kota ini, jadi kakek harus mempersiapkan kapal untuk menyelamatkan diri, dan kura – kura akan menjadi penuntun jalannya. Tibalah hari tersebut lalu kura – kura menepati janji dan menuntun kakek, di tengah perjalanan ada rubah, ular yang meminta tolong kemudian di tolong oleh kakek, namun tiba - tiba pada saat kakek akan menyelamatkan manusia kura – kura melarang kakek, lalu kakek bertanya kenapa binatang boleh di tolong tapi manusia tidak boleh, lalu kura – kura berkata di dunia ini hati manusialah  yang cepat berubah, beritahukanlah kepada manusia yang kakek tolong untuk menjaga hati mereka.

Sampai di tempat yang aman rubah menemukan sebuah gua yang berisikan harta dan di beritahukan kepada kakek, namun di ketahui oleh orang yang di selamatkan kakek, dalam hati orang tersebut timbul ketamakan sehingga orang tersebut ingin mengambil harta tersebut dan mengancam kakek untuk memberitakan setengah harta tesebut namun kakek tidak setuju, kemudian orang tersebut membuat kakek di penjara, ular kemudian mendengar kakek di penjara, lalu ingin membalas budi kakek, ular memberikan sebuah daun obat yang dapat menyelamatkan kakek dari penjara, tak lama kemudian putra mahkota sakit dan raja memberikan titah siapapun yang dapat menyelamatkan putra mahkota akan di berikan separuh wilayah kerajaan, lalu kakek menyelamatkan putra mahkota dan memiliki setengah wilayag kerajaan dan kakek memimpin wilayahnya dengan bijaksana. Pesan yang ingin di sampaikan adalah hati manusia adalah rumit terkadang manusia melakukan hal yg kejam dan menyesatkan apabila kita dapat menjaga hati berbuat kebajikan dan menyayangi semua mahkluk dengan hati yang setara serta menjalin jodoh yang baik, sesungguhnya ini adalah menolong diri sendiri.

Dari kisah di atas sangat berhubungan dengan apa yang di alami oleh Acun sx bahwa binatang pun dapat membalas budi, jika kita dengan tulus menyelematkannya, hal ini terjadi sekitar tahun  2000 saat   Acun sx setelah mengantar seorang dokter di daerah halim dengan mobil dan pulang ke rumah salah satu relawan untuk mengembalikan mobilnya di daerah kelapa gading dan setelah  menaruh mobil tersebut kemudian Acun sx naik motor untuk pulang ke rumah, sekitar pukul 11 malam terjadi kecelakaan Acun sx di tabrak oleh anak muda yang mabuk, ternyata motor nya masuk ke garda mobil dan acun sx terlempar 4 meter dari motor tersebut, saat terlempar banyak yang berkerumunan di mobil yang tabrakan dan orang pada bilang kalau orang yang di tabrak pasti sudah mati, namun Acun sx ternyata masih hidup dan tidak terluka, kemudian anak muda itu dan Acun sx di bawah ke pos, dengan hati yang lapang  Acun sx  tidak menyalakan anak muda yang menabraknya itu, dan merasa bersyukur, lalu  Acun sx  bercerita kepada salah satu bhante di Tangerang, kalau dia mengalami kecelakaan namun masih hidup, bhante setengah tidak percaya karena kondisi Acun sx pada saat itu tidak seperti orang yang mengalami kecelakaaan, bhante pun tidak bisa menjawab kenapa Acun  sx masih hidup setelah mengalami kecelakaan ternyata jawaban adalah kira – kira 2 minggu yang lalu pada saat melewati Kampung Melayu Acun sx berhenti dari motornya, dan melihat ada seekor biawak yang di ikat kakinya dan sedang di perdagangkan, merasa kasihan akhir dengan uang yang tersisa hanya Rp. 60.000,-  Acun sx  membeli biawak tersebut dan di bawa pulang ke rumahnya dan kemudian biawak tersebut di lepaskan di kali dekat sebuah vihara rumah Acun sx, dari situlah jawaban kenapa Acun sx bisa selamat dari kecelakaan karena seekor binatang dapat merasakan ketulusan hati dari Acun sx  dan ini merupakan balas budi dari seekor biawak.

Selain masalah balas budi ada juga mengenai konflik yang di alami oleh Acun sx dengan ke 15 saudaranya terutama kakak pertamanya, entah ada karma apa Acun sx dengan kakak pertamanya selalu timbul gesekan, namun karena Acun sx telah berjalan di jalan Tzu Chi dan Master  selalu mengatakan tentang satu keluarga, Acun sx akhir bertekad untuk memperbaiki hubungan yang baik dengan kakak pertamanya dan terinsipirasi dari kata – kata Master yaitu “Kenapa kita tidak mencoba memberikan cinta kasih kepada orang yang membenci kita”, dari kata – kata tersebutlah akhir Acun sx meminta maaf kepada kakak pertamanya dan hubungan mereka kembali harmonis.

Gan En.

Link terkait :
Undangan Final Kegiatan bedah buku
Undangan Draft Kegiatan Bedah Buku

Kamis, 06 September 2012

KEGIATAN : BEDAH BUKU, HE QI : UTARA.

Tema : Ajaran Jing Si
Pembicara : Ji Shou Shixiong
Lokasi : Jing Si Books & Café Pluit.
Waktu : Kamis, 07 September 2012, pukul : 19:00-21:00 WIB.
Jumlah Peserta : 45 orang

Banyak orang yang berpandangan bahwa Tzu Chi itu adalah tempat untuk berbuat amal/kebajikan saja, tetapi Tzu Chi itu sebenarnya juga merupakan tempat untuk melatih dan mengembangkan Kebijaksanaan Bathin (慧命: Huì mìng).

Dalam memberikan bantuan, Master Cheng Yen selalu memikirkan bagaimana cara yang terbaik agar dapat menolong orang yang kesusahan. Biasanya, insan Tzu Chi akan memberikan bantuan berupa beras dan barang-barang keperluan sehari-hari. Tetapi apakah itu semua akan benar-benar membantu mereka ? Contoh kasus adalah badai Ketsana yang menyerang Philipina di tahun 2009 dan menyebabkan kota Marikina di Manila diterjang banjir lumpur. Bencana ini adalah bencana yang terus terjadi setiap tahunnya dan warga di sana sudah terbiasa akan itu. Sebetulnya banjir lumpur yang parah ini terjadi karena kebiasaan buruk warga di sana yang tidak memperhatikan pelestarian lingkungan. Master Cheng Yen lalu menyarankan kepada relawan Tzu Chi Philipina agar dapat mengajak semua warga di sana untuk sama-sama bekerja dan membersihkan lokasi tersebut dari sampah dan lumpur dengan program Bekerja dan Digaji (以工代賑 : Yǐ gōng dài zhèn). Setelah warga bekerja membersihkan lokasi banjir maka relawan akan memberikan upah dan makanan kepada mereka. Master Cheng Yen hendak menyampaikan kepada kita bahwa insan Tzu Chi bukan saja memberikan bantuan materi tetapi juga menolong dan membimbing bathin mereka. Dengan pendampingan yang berbudaya humanis, sekarang banyak warga lokal di sana menjadi relawan Tzu Chi dan kaya secara Spiritual meski mereka miskin secara materi. Dan pada saat badai menerjang wilayah mereka tersebut, efeknya tidak lagi separah tahun 2009 yang lalu.

Buku Jejak Langkah Master (衲履足跡: Nà lǚ zú jì) adalah buku yang berisikan semua hal yang dilakukan dan dikatakan oleh Master Cheng Yen. Dengan membaca buku ini, kita dapat memahami apa yang hendak disampaikan Master Cheng Yen melalui Ajaran Jing Si. Dari sinilah diharapkan semua insan Tzu Chi dapat menjalankan Dharma Masuk ke Hati (法如心 : Fǎ rú xīn) dan Dharma dalam Tindakan (法如行 : Fǎ rú xíng). Agar Dharma dalam Tindakan (法如行 : Fǎ rú xíng) maka di dalam hati haruslah dimasukkan Dharma (心如法:Xīn rú fǎ) dan di sini caranya hati kita hendaknya didekatkan dengan Dharma itu sendiri (心靠近法: Xīn kào jìn fǎ). Oleh karena itu kita usahakan agar dapat membaca Buku Jejak Langkah Master (衲履足跡: Nà lǚ zú jì).

JiShou shixiong mengatakan bahwa ajaran Jing Si harus diterapkan oleh insan Tzu Chi di dalam masyarakat (走入人群: Zǒu rù rén qún). Bukan hanya berhenti sampai sana, insan Tzu Chi harus melatih diri bagamana mendekati dan membuka hatinya kepada orang lain sehingga nantinya menjadi dapat membentuk hubungan antar manusia yang lebih baik (走入人情:Zǒu rù rén qíng).


JiShou shixiong juga kembali mengingatkan kita semua agar jangan hanya mendengar dimana nantinya akan dilupakan. Hendaknya setelah melihat, langsung dilakukan dan dipahami.

Dalam kehidupan ini, yang terpenting adalah mendapatkan kebijaksanaan. Setelah kita meninggal, tidak ada yang dapat kita bawa melainkan hanyalah karma kita masing-masing. Jadi sebagai insan Tzu Chi yang juga sebagai murid Jing Si (靜思弟子: Jìng sī dì zǐ), dalam kehidupan ini, kita hendaknya dapat mempraktekkan ajaran Master Cheng Yen dan menjadi Bodhisatva Dunia (人間菩薩 : Rén jiān pú sà).

JiShou shixiong kembali sharing mengenai perkataan Master Cheng Yen, “Dengan melakukannya dan mendapatkan kebahagiaan maka itulah disebut Menciptakan Berkah (做得歡喜就是造福 : Zuò de huān xǐ jiù shì zào fú).

Master Cheng Yen selalu memberikan contoh kepada semua murid-muridnya dimana Beliau senantiasa selalu mendekatkan dirinya dengan murid-muridnya. Inilah semangat dari sistem 4in1 dimana kita hendaknya mempraktekkan Saling Bersyukur, Saling Menghormati, dan Kasih Sayang (感恩,尊重,愛:Gǎn'ēn, zūnzhòng, ài)
Ada sebagian orang-orang mengatakan bahwa Master Cheng Yen mempraktekkan ajaran Buddha yang baru tetapi yang sebenarnya adalah Master Cheng Yen menjalankan apa yang diterapkan oleh Buddha di masa lampau.

Kita sering mendengarkan kalau Master Cheng Yen selalu mengulangi kata-kata yang sama. Ini dikarenakan Insan Tzu Chi tidak menjalankan apa yang Beliau ajarkan. Master Cheng Yen berharap insan Tzu Chi dapat mewarisi ajaran Jing Si.
Kita sering berdalih kalau kita senantiasa sibuk. Kata sibuk dalam bahasa Mandarin adalah 忙 (Máng). Huruf忙 (Máng) ini berasal dari dua huruf yakni 心 (Xīn : hati) dan 亡 (Wáng : mati). Jadi kalau kita itu sibuk tak menentu, bagaikan sebuah hati yang mati.

Dalam keseharian, kita mungkin sering mendengar sebuah perkataan dalam bahasa Hokkian “Bo Huat Toh (sudah tidak ada cara lagi) /無法度”. Sekarang hendaknya kita tukar perkataan itu menjadi “U Huat Toh (ada caranya) / 有法度“ (ini adalah implementasi agar kita senantiasa berkata-kata baik (口說好話 :Kǒu shuō hǎo huà).

JiShou shixiong menceritakan di mana selama 7 hari, Master Cheng Yen tidak dapat keluar dari kamarnya untuk berceramah. Hal ini membuat murid-muridnya bersedih hati. Tetapi dari kejadian ini, hendaklah kita menyadari pentingnya waktu dan kehidupan itu sendiri. Master Cheng Yen sering berkata bahwa kita semua dapat bertemu dan berjodoh kemudian menjadi generasi pertama Tzu Chi karena Beliau masih bersama kita. Oleh karena itu haruslah jodoh ini digenggam dan disyukuri (感恩與把握當下: Gǎn'ēn yǔ Bǎ wò dāng xià).

Kita hendaknya merenungi bahwa waktu itu berlalu dengan cepat dan semuanya akan berlalu. Jangan dikarenakan alasan “tidak mengerti Mandarin” maka kita tidak mau menggali Dharma. Kita dapat menggalinya melalui ceramah Master Cheng Yen di DaAi TV.

Tanpa kita sadari, diri kita telah mengalami pencucian otak dengan menyaksikan tayangan-tayangan di televisi yang sarat akan kekacauan dan kegelapan bathin. Tekad pertama Master Cheng Yen yang pertama adalah mensucikan bathin manusia. Sebelum kita mensucikan hati orang lain hendaknya kita sucikan dulu hati sendiri (淨化人心先淨化己心 : Jìng huà rén xīn xiān jìng huà jǐ xīn) dengan cara menyaksikan ceramah Master Yen dan menerapkannya.

Dalam menjalankan Tzu Chi, jika timbul perasaan tidak bahagia berarti ada sesuatu yang salah pada diri kita dan kita harus mencari tahu penyebabnya. Ada kalanya orang-orang berkata bahwa melatih diri (修行:Xiū xíng) itu sulit berarti ada salah pada dirinya. Kita akan berada pada tahap “sengsara” jika kita senantiasa saling perhitungan (計較 :Jì jiào) dan saling membandingkan (比較 : Bǐ jiào).

Ada perbedaan antara kata Honour dan Respect (dalam artian bahasa Indonesia, sama-sama diartikan menghormati). Honour (榮譽: Róng yù) lebih diartikan sebuah ungkapan penghormatan dengan dilandasi terima kasih. Respect (尊重 : Zūn zhòng) adalah sebuah ungkapan saling menghormati yang bersifat dari dalam diri kita). Respect (尊重 : Zūn zhòng) adalah saling dapat menerima kekurangan dan ketidaksempurnaan masing-masing.

Gan En.

Link terkait :